Aceh Timur — Pemandangan memilukan masih terlihat di Kecamatan Darul Ihsan, Aceh Timur. Sejumlah siswa sekolah dasar harus mempertaruhkan nyawa setiap hari menyeberangi sungai menggunakan sampan non-mesin milik warga.
Aksi nekat itu terekam jelas dalam video yang beredar. Para siswa terpaksa mengandalkan sampan warga karena jembatan penghubung Keude Dua – Bantayan Timur ambruk diterjang banjir bandang akhir 2025 lalu.
Berdasarkan laporan situasi terkini per April 2026, kerusakan infrastruktur jembatan di Aceh Timur memang cukup masif akibat rangkaian banjir sejak akhir November 2025. BPBD Aceh Timur mencatat setidaknya 13 jembatan rusak berat atau putus di berbagai kecamatan, termasuk Darul Ihsan.
Namun, lima bulan berlalu, anak-anak sekolah masih harus naik sampan setiap pagi dan pulang sekolah.
“Selama ini belum ada perhatian pihak pemerintah dan tidak terlihat adanya gerak-gerik di lapangan,” kata seorang warga yang enggan disebut namanya.
Ia mengaku khawatir dengan keselamatan anak-anak, apalagi saat arus sungai deras. “Setiap hari pemilik sampan yang rela bantu. Kalau dia sakit atau ada keperluan, anak-anak bingung mau lewat mana.”
Kondisi ini juga disorot Anggota DPRK Aceh Timur Fraksi Partai Golkar, Aftahurriza Dekda, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Ruang Siang “B” DPRK Aceh Timur, Kamis (23/4/2026).
Aftahurriza menyebut jembatan tersebut masuk wilayah daerah pemilihannya. “Pasca banjir Aceh, hampir tiap minggu saya dapat laporan dari warga. Mereka minta saya lobi pemerintah agar segera bangun jembatan permanen. Kalau belum bisa, minimal jembatan gantung. Atau seburuk-buruknya, dibantu satu rakit agar pemilik sampan tidak lagi sibuk setiap hari membantu anak sekolah menyeberang,” ujarnya.

































